Saran untuk diikuti

Hot Sekarang Di Mixnot bisa podcast

Sekarang Di Mixnot bisa podcast

Sekarang di Mixnot bisa podcast, ini adalah contoh podcast di Mixnot. Ayo tingkatkan kreativitas mu dengan berbagai konten yang bisa kamu bu

Trending

#game 5 Artikel
#internet 5 Artikel
#grentongan 3 Artikel
#smartphone 3 Artikel
#telkomsel 3 Artikel
#kuota 3 Artikel
#gameandroid 3 Artikel
#traveling 2 Artikel
#makanan 2 Artikel
#ecommerce 2 Artikel

CINTA DI MUSIM ABU-ABU

CINTA DI MUSIM ABU-ABU



BAB 1: Sepasang Mata Di Balik Jendela

 

 

         “Aku tidak mau pindah sekolah ayah. Aku mohon. Aku janji, aku tidak akan ke Club Malam” Aulia Nelechter tak menyetujui kehendak ayahnya, seraya menawarkan janji agar ayahnya tak mengiyakan kehendaknya.

 

         “Ayah dan ibu sudah setuju. Kamu pindah sekolah di kampung halaman ibu” Robert Nelechter kembali menegaskan kehendaknya setelah meneguk kopi manis buatan istrinya.

         “Flores itu indah Aulia. Terakhir kamu ke kampung ibu kelas tiga SD. Ibu yakin, kamu akan menikmati hidup baru di Flores” Nyonya Robert Nelechter mencoba meluluhkan keberatan Aulia.

         “Aulia tidak suka ayah dan ibu mengambil keputusan tentang hidupku tanpa mendengar kemauan Aulia”

         “Aulia, kamu ke sana tidak hanya bersekolah. Namun kamu akan belajar bisnis di sana dengan menjadi mandor tidak langsung di perkebunan kelapa warga” Robert Nelechter menjelaskan tujuan anak perempuannya bersekolah di kampung halaman istri tercintanya.

         “Ayah, aku masih anak sekolah. Aku tidak mau terlibat dalam bisnis ayah”

         “Benar kamu masih anak sekolah, ayah menyuruhmu bersekolah disana bukan berbisnsi”

         “Bukanya ayah memintaku menjadi mandor perkebunan?”

         “Mandor tak langsung Aulia. Kamu boleh bersenang-senang di sana, namun tidak salahkan sambil melihat pekerjaan pekebun di sana”

 

###





         “Hai Erbit. Tidak kesekolah?” Pak Bambni sopir bus yang menjadi bos Erbit menegurnya, sebab masih pukul sepuluh lewat seperempat.



         “Bisaaa.... Ada rapat dewan guru” Erbi dan Pak Bambni menjawab bersama. Erbit lalu tertawa. Dan seperti biasa Pak Bambni mengepalkan tinjunya ke dada kiri Erbit. Pak Bambni telah mengenal Erbit saat masih bayi. Ayah Erbit adalah kawan sejatinya. Dari berladang di kampung, ke tanah rantau menjadi TKI lalu kembali ke kampung menjadi sopir bus. Karena ayah Erbit tak dapat menyetir bus, ia menjadi kernet bus yang dikendarai Pak Bambni. Hingga ayah Erbit meninggal, kesetiakawanan Pak Bambni tak pudar. Ia mengiyakan saja permintaan Ibu Yani, ibunda Erbit saat menawari Erbit menjadi kernet. Saat itu Erbit berusia kelas dua SMP.



         “Pelajaran matematika?”



         “Ia Pak Bam”

        “Kenapa? Kemarin bahasa inggris, hari ini matematika, besok apa?” Sebelum menjawab Erbit merampas botol air minum dari tanggal Pak Bam.

         “Besok aku tidak mungkin bolos”

         “Aku sudah bosan dengan kata ‘besok aku tidak mungkin bolos’ dari lidahmu itu”

         “Pak Bam, kapan berangkatnya?” teriak seorang penumpang dari jendela bus.

         “Sedikit lagi bu”

         “Sedikitmu itu tak sama dengan sedikitnya kami Pak Bam”

        “Masih satu penumpang bu. Sabarlah, orang sabar di sayang Tuhan” Erbit tertawa cengigis melihat rayuan Pak Bambni.



        “Tunggu siapa Pak Bam?” Erbit mencoba mencari jawaban atas tingkah aneh Pak Bambni yang sedari tadi mondar-mandir ke kiri ke kanan.

        “oww... itu dia” tampak lima anak perempuan berlangkah menuju busnya.

        “Siapa Pak Bam?”

       “Untuk apa kamu tahu, nanti kamu rayu dia” Erbit hanya mengendus setelah mendengar jawaban Pak Bam.

       “Bagaimana bisa Pak Bam, tadi katanya satu penumpang ini kow lima shi?” keluh seorang penumpang yang tempat duduknya tepat dibelakang kursi sopir.

       “Bus kan masih dapat muat Mbak”

       “Sudah cukup. Jadi jalan tidak Pak Bam, kalau lama aku cari bus lain saja”

      “Aduuhhh.... jangan Mbak, ini mau jalan” rayu Erbit. Tak lama berselang bus yang dikendarai Pak Bambni bergerak meninggalkan terminal menuju tempat tinggal penumpang.





###

 

         Hari telah gelap saat Pak Bamni memarkirkan busnya di halaman rumah. Di teras rumah, istri Pak Bamni menyambut kedatangan suaminya dan Erbit dengan sepiring singkong rebus dan dua gelas kopi.

         “Bu, hari ini Erbi bolos” lapor Pak Bamni pada istrinya. Di lingkungan tempat tinggal Tante Enartik, istri Pak Bamni adalah orang yang paling ditakuti Erbit, sebab bila dia marah telingamu akan kepanasan mendengar ocehannya. Tante Enartik, demikian nama yang dipanggil Erbit pada istri Pak Bamni sangat membenci anak sekolah yang membolos. Erbit yang hendak melangkah ke tangga rumah berhenti seketika saat mendengar laporan Pak Bamni. Pak bamni yang dilihatnya sedang tertawa dibalik kunyaannya.

        “Sore ini kamu tidak dapat ngopi” seru Tante Enartik pada Erbit. Mendengar itu Erbit lekas melangkah pergi dengan sungutan menghiasi wajahnya.

        “Pak, dimana Aulia?” Pak Bamni tersentak kaget. Anak jurangannya yang hendak di titipkan kepadanya tak dingatnya. Seraya memukul jidat, Pak Bamni segera mengejar Erbit. Pak Bamni mendapati Erbit sedang membuka pintu masuk rumah.

        “Ada Pak Bam? Sepertinya amat gawat”

       “Dimana kita menurunkan Aulia?”

      “Aulia? Aku tidak mengenalnya” Pak Bamni pun teringat, Aulia masuk ke bus bersamaan dnegan empat perempuan yang seusia dengannya.

       “Coba kamu ingat kembali dimana kita menurunkan penumpang lima orang gadis yang seusia denganmu?”

       “Lima gadis yang seusia denganku?”

       “Iya. Mereka penumpang terakhir yang naik ke bus”

      “Ada yang minta diturunkan di Kampung Pesisir. Ada juga di Kampung Pukaone. Ada satu yang minta di turunan di Desa Suten”

       “Iya, itu yang turun di Desa Suten. Kampung kita, itu Aulia” Erbit mengeryitkan keningnya.

       “Yaaa, mungkin dia sudah sampai”

       “Dia seharusnya di rumahku, begooo” marah Pak Bamni pada Erbit.

       “Lhoo, Pak Bamni tidak memberi tahu aku dia nginap di rumah Pak Bamni. Aku pikir dia penumpang sama seperti yang lain” Pak Bamni tak dapat melanjutkan marahnya. Ia yang disampaikan Erbit ada benarnya. Seharusnya ia sampaikan tentang Aulia.

       “Dimana kita menurunkannya?”

       “Di gerbang desa, sebelum kita membelok menuju Kampung Pantai. Dia sendiri yang minta diturunkan di gerbang desa”

       “Pak Bamni, Tante Enartik menyuruhku memanggil Pak Bamni. Katanya ‘orangnya sudah ada di rumah’” seorang akan kecil berusia SD datang menggangu pembicaraan Pak Bamni dan Erbit. Tanpa bilang permisi pada Erbit dan berterima kasih pada anak SD itu, Pak Bamni langsung berlangkah cepat pulang ke rumah. Setibanya di rumah. Istrinya tak berhenti memarahinya hingga jam tidur.





###

 

         Hari ini, Erbit tak dapat membolos. Sebab ia telah berjanji pada pak Bamni. Erbit menerima hukuman berdiri selama mengikuti pelajaran hari ini karena membolos kemarin. Pak Genel sedang menjelaskan struktur atom ketika Erbit bersiul. Seisi kelas langsung gaduh. Kemarahan Pak Genel memuncak. Disuruh seluruh murid menampar Erbit. Erbit tak mau menjelaskan alasannya bersiul.

          Lima belas menit sebelumnya.

         Aulia berlangkah perlahan menuju ke ruang Tata Usaha yang ditunjuk satpam. Agar sampai ke ruang Tata Usaha, ia melewati kelas X IPA-1, kelasnya Erbit. Saat Aulia berlangkah di teras kelas X IPA-1, ia memalingkan wajahnya menuju ruangan kelas. Disaat yang bersamaan, Erbit yang kala itu sedang dihukum berdiri sedang melihat keluar. Yaa, seperti kebanyakan cerita cinta, kedua matanya bertemu. Ada senyum indah yang menghisai wajah Erbit. Sepasang mata yang dilihatnya di balik jendela kelas membuat nafasnya sesaat berirama tak menentu. Apakak ini rasanya jatuh cinta? Batin Erbit. Aulia berlalu dari teras kelas X IPA-1. Setelah tak dapat melihat bayangnya, Erbit bersiul.

        "Sepasang mata bola pimpong," batinnya





sumber gambar: hipwee.com



Komentar (0)

Top Blogger

Artikel Pilihan

Hot Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Halo mixnoter, kami terus berinovasi agar menjadi platform blogging nomor 1 di Indonesia.Kini kami merilis Mixpod (Mixnot Podcast) sebagai f