Monetisasi Artikel? Dapatkan penghasilan dari setiap artikel yang kamu tulis di Mixnot.com

PKI Membonceng Tentara di Peristiwa PRRI

PKI Membonceng Tentara di Peristiwa PRRI

Masih ingat PRRI? Kala Achmad Husein! mencabut tanda pangkatnya di halaman gubernuran Sumbar di Padang sekarang, sejarah pun dimulai.

Saat itu 1958 dan bertahun-tahun kemudian Ranah Minang gelap oleh nasib buruknya.

Saking buruknya nama anakpun dibuat sehebat mungkin agar hilang bau Minangnya. Takut.

PRRI disebut peristiwa, ada yang bilang pemberontakan. Para sejarawan meluruskannya, “koreksian” pada pemerintah pusat yang sudah condong ke kiri.

Singkat cerita, tentara pusat masuk untuk memadamkan pemberontakkan itu. Senjata menyalak dari darat laut dan udara. Anak negeri ijok ke rimba raya.

Adalah Brigjen TNI (pur) DR Sjaafroedin Bahar dalam bukunya Etnik, Elite dan Integrasi Nasional;Minangkabau 1945 -1984, Republik Indonesia 1985 – 2015 diterbitkan Gre Publishing Yogyakarta 2015, yang berkisah soal penumpasan PRRI.

Penumpasan PRRI disebut Operasi 17 Agustus. Tentara yang dikirim ke Sumbar terdiri dari tiga golongan.

Pertama para perwira yang bertugas menumpas pemberontakan dengan tetap menghormati budaya Minang. Contohnya A Yani.

Golongan kedua menumpas secara tuntas apapun caranya. Biar cepat selesai, termasuk memakai jasa PKI. Perwira ini misalnya pengganti A Yani yaitu Kol Pranoto Reksosamodra. Kolonel ini membentuk Organisasi Keamanan Rakyat (OKR). OKR dibagi dua golongan A dan B dan anggotanya 6.341 orang. Rinciannya A 1.665 dan B sebanyak 4.676.

Tugas kelompok A membantu TNI memelihara keamanan. Kelompok B membantu memelihara keamanan dan pembangunan.

Anda tahu satu balayon itu 700 prajurit? Nah kalau 6.341 orang itu artinya sekitar 9 batalyon. Itulah angkatan kelima tersebut.

Sembilan balatyon OKR itu isinya mayoritas dari Pemuda. Rakyat yang tak lain organisasi di bawah PKI.

Tahukah Anda instruksi hanya membentuk OKR dengan 150 anggota, tapi nyatanya lebih dari 6.000.

Kini golongan ketiga yaitu perwira yang menangguk di air keruh. Tumpas dan manfaatkan peluang untuk menyemai lebih luas lagi paham komunis sampai ke desa-desa. Makanya jangan heran kemudian ada walinagari yang PKI. Perwira ini membentuk Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) sebuah organisasi yang kebengisannya di Ranah Minang tak tertandingi sampai kini.

Dalam golongan ketiga ini ada nama-nama seperti Mayor Latif, Lettu Untung yang kelak memberontak bersama Aidit.

Mereka memperalat OPR. OPR boleh bertempur sendiri tanpa se izin Kodam. Kolonel Dahlan Djambak yang dihormati itu dibunuh oleh OPR di sebuah rumah bersama ponakannya dan rumah itupun dibakar.

OPR itu seperti setan dengan ladiang tajam di kedua tangannya. Jangankan dia, anjing saja diusir maka kita akan ditembaknya.

OPR itu tulen PKI-nya mereka beroperasi di desa-desa, memaksa penduduk masuk PKI.

Kalau OPR dibantah, mati tantangannnya.

Menurut kisah yang disampaikan generasi remaja kala itu 1958 sampai 1969, OPR banyak membantai rakyat dan memperkosa.

Ketakutan meluas, yang “berani” lari ke rantau secara massal yang ragu-ragu lari masuk hutan disebut ijok.

Lebih 10.000 orang Minang tewas dan angkanya bisa turun naik tergantung sumber. Itu satu hal, masalah lain mental sudah jatuh ulah PKI dan OPRnya.

Orang tak bersalah bisa hilang malam dibuatnya. Rumah orang-orang Masyumi disilang merah.

OPR sejahat-jahatnya orang. Lalu tibalah saatnya roda berputar, komunis ditumpas dan anggota OPR diburu sampai ke liang batu.

PRRI adalah sikap jantan orang Minang, menegur pemerintah pusat yang melenceng. Tak ada lagi sikap “bagak” seperti itu sesudahnya. Yang ada hanya demo-demi ikat kepala. Bahkan ada dibayar pula.

Tokoh sentral gerakan koreksi itu tak lain Achmad Husein bekas komandan Batalyon Harimau Kuranji. Ketika ia meninggal ribuan orang mengantarkannya ke makam Pahlawan Kuranji. Jika anda kini melalui depan kantor PLN di Sawahan, sebelah kanan ada rumah bertembok kokoh. Disitulah rumah Achmad Husein.

Apakah PRRI itu pemberontakan atau hanya sikap protes atau dua-duanya?

Apapun, permintaan PRRI antara lain otonomi yang lebih luas, ternyata jadi ikon oleh pemerintah setelah reformasi. Betapa lambatnya Jakarta membaca dan betapa cepatnya orang Minang berpikir.

Setelah soal PKI yang membonceng penumpasan PRRI sekarang prokabar.om menurunkan kisah lain soal gerakan tersebut.

Medio 1958, Laksmana John Lie memborbardir dari kapal perang, di laut dekat Muara. Di Tabing Paratroop meringsek. Kota Padang sepi, tak ada jenderal di kota ini sekarang, yang ada kaum ibu dan tentara semut yaitu para remaja. Kini remaja itu sudah jadi kakek-kakek.

Pada 1958 itu, adalah puncak kekecewaan pada pemerintah pusat. Segala akan diadakannya, segala akan dibangun, tapi teriakan saja. Pembangunan tidak jalan jalan, daerah makin terpinggirkan.

Padang ke Bukittinggi susahnya minta ampun, apalagi ke Sijunjung.

PRRI oleh beberapa pihak disebut Pemberontakan setengah hati, sebab ujungnya gagal.

Sebenarnya waktu itu Achmad Husein tidak berniat memberontak. Kolonel ini bersama teman sejawatnya hanya ingin mengingatkan Soekarno agar kembali ke relnya.

Kemudian justru terjadi peperangan. Perang saudara antara tentara pusat dan orang Minang.

Dalam perjalanannya, pemerintah pusat kemudian membagi 3 Provinsi Sumatera Tengah yaitu Sumbar, Riau dan Jambi. Tanggal surat keputusan pembagian itu dipakai sebagai Hari Jadi Provinsi oleh Jambi dan Riau yang diperingati tiap tahun.

Bagi Sumbar tidak. Itulah sebabnya sampai sekarang tidak ada hari jadi provinsi Sumatera Barat. Tak ada peringatan. Kalau diperingati artinya memperingati hari kekalahan.

PRRI itu diproklamirkan 15 Februari 1958 di halaman rumah gubernur sekarang. Proklamir PRRI itu diikuti oleh Permesta di Sulawesi.

Beberapa hari sebelum proklamir yaitu 10 Februari, Padang mengultimatum Jakarta, tapi tidak didengarkan. Maka itu tadi berdiri pemerintahan PRRI.

Jenderal Nasution memerintahkan, “tangkap Husen!”. Husen berada di kampungnya, sekitar 98 persen orang Minang mendukung PRRI. Husen tak tersentuh.

Tidak ada masa paling bergelora di Minang seusai kemerdekaan kecuali saat PRRI itu.

Ribuan anak muda dengan baju terbuka melangkah ke Padang menjelang akhir Februari, jumlahnya sekitar 40 ribuan, seperti tercatat dalam biografi Ahmad Husein yang ditulis Mestika Zed dan Hasril Chaniago.

Dukungan pada PRRI mengalir, Hatta saja mundur karena melihat Soekarno sudah nyaris benar-benar salah jalan.

Hanya orang Minang yang mau mengoreksi pemerintahan pusat meski risikonya pahit.

Salah satu kepahitan itu tentara pusat masuk meringsek, kaum pria gagah perkasa lari ke hutan. Diam di sana berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pendidikan terlantar, sebab pelajar jadi tentara semut gurunya jadi pejuang. Ibu-ibu mereka menyiapkan ransum.

Tentara pusat yang umumnya dari batalyon Diponegoro memang kuat. Tiap nagari yang sudah dikuasainya dibuat tugu di tengah kampung. Jika sekarang Anda berjalan di Sumatera Barat lalu menemukan tugu-tugu di kampung mungkin di simpang tiga di tengah pasar atau di tepi jalan, maka itu adalah bukti kelalahan PRRI.

PRRI atau Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia dengan pimpinan Mr Sjafroeddin Prawiranegara. Tokoh ini adalah orang yang menyelamatkan republik saat PDRI ketika Yogyakarta diduduki Belanda. Kekuasaan ia ambil alih dan diumumkan PDRI di Ranah Minang. Karena PDRI itulah Indonesia selamat.

Pak Sjafroeddin adalah pahlawan nasional, dengan demikian dendam pemerintah pusat pada PRRI sudah habis.

Harap Anda bedakan PDRI dan PRRI. PDRI adalah Pemerintahan Darurat RI tahun 1948. Tugunya tak selesai-selesai dibangun pemerintah pusat di Suliki mirip jalan tol Padang Pekanbaru yang janji ke janji saja.

Dikutip dari : prokabar 

Foto : Letnan kolonel Achmad Husein rahimahullah

#PKI #PRRI #Sejarah #TNI #PDRI

Mau Dapat Uang? Tulis artikel dan dapatkan penghasilan tambahan dari setiap artikel yang kamu tulis

Komentar (0)

Top Blogger

Artikel Pilihan

Hot Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Halo mixnoter, kami terus berinovasi agar menjadi platform blogging nomor 1 di Indonesia.Kini kami merilis Mixpod (Mixnot Podcast) sebagai f