Ketika B.J Habibie Memimpin Indonesia

Ketika B.J Habibie Memimpin Indonesia

Bacharuddin Jusuf Habibie, adalah orang nomor 1 di Indonesia setelah kejatuhan orde baru. Kemarin aku sudah ngebahas Soeharto, dan kini aku membahas presiden ke 3 Indonesia ini. Seperti yang kita tau, Habibie adalah presiden dengan masa jabatan singkat, yaitu 512 hari (1 tahun 5 bulan). 

Yaitu dari 21 Mei 1998 - 19 Oktober 1999. Habibie menjadi presiden pertama yang berasal dari Sulawesi dan presiden yang lahir dari luar pulau Jawa. Berikut, aku membahas beberapa kejadian semasa beliau menjadi presiden :

1. Awal Menjadi Presiden

Setelah Soeharto meletakan jabatan presiden setelah 32 tahun memimpin RI, Habibie secara resmi diangkat sebagai presiden Indonesia. Namun kontroversi timbul ketika 21 Mei 1998, dimana pelantikan digelar di istana negara. Menurut UUD 1945 pasal 9, "Sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan sumpah atau janji di depan MPR atau DPR". Namun Habibie dilantik dihadapan Mahkamah Agung dan memang pada saat itu, gedung MPR telah diduduki mahasiswa.

Menurut pandangan hukum materil, Habibie menjadi presiden adalah sah & konstitusional. Namun menurut hukum formal, hal itu tidak konstitusional karena serah terima jabatan tidak melalui acara konstitusional. 

Menurut beberapa pakar, Soeharto juga tergesa gesa dalam memberikan mandat. Dimana seharusnya, Soeharto harus mengembalikan mandatnya ke DPR, sebelum memilih Habibie.

2. Pemerintahan

Kebijakan dikeluarkan Habibie setelah menjadi presiden. Diantaranya membentuk kabinet reformasi pembangunan. Juga melakukan kebijakan lain seperti ;

a. Amandemen UUD 1945, ini adalah amandemen pertama UUD setelah dibuat di tahun 1945. Amandemen ini diterapkan terhadap 9 pasal, yakni Pasal 5, Pasal 7, Pasal 9, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 20, dan Pasal 21. Di pasal 7, jabatan seorang presiden diganti menjadi 2 periode (10 tahun).

b. Membuat peraturan baru, seperti 3 undang-undang demokrasi, 12 ketetapan MPR, UU pers, UU monopoli, UU perlindungan konsumen, dan UU otonomi daerah.

c. Membebaskan tahanan politik, beberapa orang yang ditahan merupakan penentang rezim Soeharto, beberapa warga Timor Leste, & pemberontak PKI. Orang orang itu seperti Cancio AH Guterres, Thomas Agusto, Manan Effendi, Alexander Warrouw, dan Sri Bintang Pamungkas.

3. Lepasnya Timor Timur

Masa Soeharto, Timor Timur dimasukan ke dalam wilayah RI dan menjadi provinsi ke 27. Lepasnya negara itu juga tak lepas dari nama Habibie. Habibie sebagai presiden Indonesia menyetujui diadakan referendum untuk memilih ; merdeka atau bergabung dengan Indonesia. 

30 Agustus 1999 adalah momentum bersejarah itu. Dan hasilnya 78,50% warga memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia. Namun, pihak oposisi Habibie memanfaatkan hal ini untuk menumbangkan rezimnya & banyak warga yang tak setuju juga kecewa atas keputusan Habibie.

4. Ekonomi

Indonesia berjuang keras demi keluar dari keterpurukan ekonomi. Atas hal itu, Habibie melakukan beberapa opsi demi pemulihan ekonomi RI. Beberapa seperti menaikan nilai tukar rupiah berkisar dibawah 10.000, likuidasi bank bermasalah, perbaikan ekonomi riil, dan masih banyak lagi.

5. Pemilu 1999

Pemilu ini menjadi yang pertama dalam reformasi. Sistem 3 partai ala Soeharto dihapus yang membuat banyak partai bermunculan. Ada 44 partai peserta pemilu yang ikut serta dalam pemilu ini. 

Disinilah keluar asas LUBERJUDIL (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur,adil). Tak hanya itu PDI menjadi partai pertama yang mengalahkan Golkar yang sudah 6 kali menang pemilu

6. Hubungan Dengan Soeharto

Setelah Soeharto meninggalkan istana 21 Mei 1998, Habibie tak pernah lagi pertemu dengan presiden terlama RI itu. Habibie beberapa kali mencoba bertemu, namun Soeharto menolak & lebih sering bicara melalui telepon. 

Pertanyaan besar masih menjadi teka teki hingga kini yaitu "mengapa Soeharto tak mau bertemu Habibie?". Dalam wawancaranya bersama Najwa Shihab, Habibie menjelaskan percakapannya dengan Soeharto. 

Soeharto berdalih, jika kedua pemimpin bertemu maka akan merugikan kita. Rugi dalam hal ini karena adu domba. Ditelpon, Soeharto hanya memerintahkan agar siap menghadapi & menyelesaikan masalah negeri. 

Soeharto juga berkata, bahwa ia mendoakan Habibie agar sukses memimpin RI. Dibuku Habibie berjudul "detik detik yang menentukan", beliau menulis ; "Mungkin beranggapan bahwa sebaiknya biarlah saya tidak mengetahuinya. Dan saya ikhlas kalau memang begitu kehendak Pak Harto. 

Karena saya percaya sepenuhnya bahwa Allah SWT jualah dzat yang Maha Mengetahui atas segala seusatu tentang hamba-Nya. Dan sejarah jualah nanti yang akan mengungkap teka-teki kemisteriusan ini." Bahkan saat Soeharto sakit, Habibie juga tak boleh menjenguknya.

7. Akhir Kekuasaan

Beberapa tuduhan atas pemerintah Habibie menjadi faktor berakhirnya kekuasaannya. Pada 14 Oktober 1999, Habibie datang ke Senayan untuk menyampaikan pidato pertanggungjawabannya. 

Namun, ternyata ketika masuk ke ruangan, Habibie tak disambut seperti presiden lainnya. Namun ia dicemooh, dihujat, dan diteriaki anggota sidang. Namun Habibie hanya tersenyum melihat dan menerima semuanya, sambil berjalan ke kursi.

Ketika berpidato tentang keberhasilannya, ia justru makin dicemooh oleh anggota sidang. Meski begitu, Habibie kembali memaklumi perlakuan buruk yang ia dapat. Setelah merenung, pada 20 Oktober 1998 malam ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang dirasakan. 

Setelah Amien Rais (ketua MPR) mengetok palu dengan menyatakan bahwa MPR menolak pidato pertanggungjawaban presiden Habibie, dihari itu pula Habibie tak mau mencalonkan diri menjadi presiden.

#Sejarah

Mau Dapat Uang? Tulis artikel dan dapatkan penghasilan tambahan dari setiap artikel yang kamu tulis

Komentar (0)

Top Blogger

Artikel Pilihan

Hot Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Halo mixnoter, kami terus berinovasi agar menjadi platform blogging nomor 1 di Indonesia.Kini kami merilis Mixpod (Mixnot Podcast) sebagai f