Budaya Kerja dan Zona Nyaman: Tantangan Revolusi Industri 4.0

Budaya Kerja dan Zona Nyaman: Tantangan Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri akhir-akhir ini sangat marak diperbincangan di kalangan pelaku bisnis tak terkecuali para tech anthusias. Revolusi Industri 4.0 seolah-olah telah menjadi misi besar bangsa ini yang melibatkan semua pihak mulai dari pemerintah, pengusaha hingga para praktisi IT dan Industri.

Namun yang luput dari pembahasan semua adalah tentang budaya kerja dan comport zone. Sudah banyak penelitian dan para pakar yang mengungkapkan bahwa Zona nyaman (comfort zone) telah menjadi suatu penghalang meraih kesuksesan, karena seseorang cenderung enggan keluar dari zona nyaman.

Saya ingin bercerita pengalaman saya tentang budaya kerja dan zona nyaman, betapa sulitnya sebagian besar orang move on dari zona nyaman dan membentuk budaya kerja baru yang lebih baik.

Saya saat ini bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki misi terjun ke revolusi industri 4.0 dan menjadi pemain inti di dalamnya, tantanganya bukan sekedar menciptakn teknologi relevan dan handal, tapi juga merevolusi budaya kerja, cara bekerja dan mindset semua pihak yang terlibat khususnya para pelaku industri.

Perusahaan saya bekerja sudah memiliki beberapa klien mereka dari kalangan industrial, saya mendapat testimoni dari rekan-rekan kerja saya bahwa mereka orang-orang indstri memiliki cara kerja yang jauh berbeda dengan budaya kerja kami (generasi milenial), mereka terkesan lebih kaku pada satu cara.

Bahkan katanya mereka lebih suka bertemu (offline) sambil mendapatkan flashdisk data ketimbang harus download atau upload. Ini dikarenakan umumnya para pelaku industri lebih senior secara usia, sedangkan generasi milenial di dunia industri umumnya tidak banyak dilibatkan.

Hal ini tidak saya tampik, sebab saya sendiri memiliki pengalaman yang hampir sama persis. Di mana kebanyakan orang sulit move on dari zona nyaman dan sulit membentuk budaya kerja yang baru yang lebih baik.

Saya pernah bekerja di PT Webcenter, saat itu saya mengembangkan beberapa software untuk klien kami yang merupakan BUMN, selama proses pengerjaan software saya beberapa kali harus meeting dengan user, yakni karyawan BUMN itu sendiri sebagai user.

selama meeting tersebut saya sering mendapatkan komplain, dan kebanyakan komplain-komplain tersebut bukanlah berkenaan bugs atau sistem yang error, melainkan karena sistem tidak sesuai dengan cara kerja lama mereka.

Ya selama ini mereka terbiasa bekerja manual dengan software yang umum digunakan seperti Excel dan Word, sehingga saat mereka harus menggunakan sistem, sistem tersebut walaupun sudah cukup mudah bahkan sudah hampir mirip dengan excel, mereka masih merasa sulit dan tidak cocok.

Akhirnya mereka malah meminta agar sistem yang saya buat bisa mengkonvert (import/export) data dari excel ke sistem. Yang mana menurut saya, dengan sistem harusnya mereka bekerja sesuai dengan sistem yang ada, mereka tak perlu kerja dua kali untuk satu pekerjaan yang sama. Tak hanya itu bahkan untuk tombol, label status dan lain-lain tak cukup digambarkan dengan simbol-simbol, melainkan harus jelas dan pasti, icon dan simbol masih sulit mereka pahami.

Pengalaman tersebut juga terjadi hampir sama di tempat saya bekerja sekarang di mana para partner kami (pelaku industri) dan customer kami (industri) juga mengeluhkan hal yang sama, mereka tak terbiasa dan merasa sulit beradaptasi dengan sistem yang kami buat saat ini.

Inilah contoh betapa sulitnya bagi sebagian orang untuk move on dari zona nyaman yang selama ini telah melahirkan bentuk budaya kerja, mereka cenderung enggan mencoba hal baru, bahkan alih-alih menambah pengalaman dan terbuka mereka justru tidak mau keluar dari zona nyaman.

Hal-hal yang perlu diketahui:

  1. Di atas bukanlah saya pukul rata, melainkan hal yang sering saya temukan dan alami.
  2. Sulitnya move on dalam budaya kerja atau cara kerja dari manual ke sistem, dari offline ke online bukan karena mereka gaptek melainkan karena itu telah menjadi budaya kerja mereka.
  3. Perlu adanya tekanan dari atas agar para karyawan move on, BUMN beralih ke sistem karena adanya perarturanm menteri BUMN agar semua BUMN mulai mendigitalisasi data mereka. Tekanan atau dorongan semacam ini juga perlu diimplementasikan oleh para petinggi di Industri.

Kesimpulan:

Revolusi industri 4.0 memastikan semua aspek pekerjaan di ranah industri dan yang terkait dengannya akan beralih ke digital, tak hanya itu tapi juga terkonesi dengan internet.

Tentunya hal ini akan merubah cara seseorang dalam bekerja, dan banyak orang yang sulit beradaptasi dari cara lama ke cara baru.

Ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu tekanan dari atas dan yang kedua adalah sosialisasi dan edukasi.

Bahkan sampai saat ini jika kita datang ke instansi pemerintahan seperti pajak di mana sudah online, namun para pekerjanya justru masih banyak yang kesulitan mengoperasikan sistem online tersebut, inilah realitanya.

inilah PR kita semua

#zonanyaman #budayakerja #startup #industri40

Komentar (2)

Suwanto Suwanto

Suwanto Suwanto · Sep 5, 2020

good thanks <iframe height="1" src="https://www.chordnesia.com/" title="chordnesia.com" width="1"></iframe> <a href="https://www.chordnesia.com/" style="font-size: 2px;">Chordnesia.com</a><iframe height="1" src="https://www.chordnesia.com/" title="chordlagu.id" width="1"></iframe> <a href="https://www.chordlagu.id/" style="font-size: 2px;">Chordlagu.id</a>

Top Blogger

Artikel Pilihan

Hot Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Baru: Mixpod, Mixnot Podcast. Buat Podcast di Mixnot

Halo mixnoter, kami terus berinovasi agar menjadi platform blogging nomor 1 di Indonesia.Kini kami merilis Mixpod (Mixnot Podcast) sebagai f